Juni, 2013

Siang ini, mendekati akhir bulan juni, ada hujan yang jatuh di atas atap kamar yang saya tinggali. Aroma tanah yang tersentuh hujan jelas sekali sampai ke penciuman saya. Mengembalikan saya lagi pada cerita di bulan juni tahun lalu. Membawa saya menyusuri jarak kilometer menemukan satu tempat dimana saya berada setahun yang lalu. Tempat tersembunyi dibalik bukit-bukit indah ciptaan Tuhan. Tempat yang memberikan banyak arti dan beberapa perubahan. Setidaknya setelah setahun berlalu belum sempat lagi saya menginjakan kaki lagi di tempat itu.
Setahun yang lalu, masih di awal bulan juni, diantar oleh ayah, pagi-pagi sekali saya bersiap berangkat menuju satu lokasi yang sebelumnya tak pernah saya datangi. Tidak sendirian tentunya, ada sebelas orang wanita ditambah delapan orang pria yang satu angkatan di kampus dengan saya juga bersiap berangkat ke tujuan yang sama. Mereka juga sama seperti tempat itu bagi saya, sama-sama belum saya kenal dan 4o hari kemudian setelah hari keempat dibulan juni itu saya harus tetap bersama mereka. Sepertinya tidak akan mudah, karena saya dan 18 teman lainnya datang dari fakultas dan jurusan yang berbeda di kampus meskipun seangkatan. Apalagi ego jurusan yang cukup kuat sepertinya semakin tak memudahkan. Sampai disini saya percaya ada yang tak terlupakan setelah ini.
Perjalanan beberapa jam yang lebih banyak saya habiskan tidur karena masih lelah karena hingga minus beberapa jam sebelum keberangkatan saya masih berkutat dengan tugas kuliah, cukup terbayar dengan indahnya pemandangan yang saya dapati ketika hampir sampai di lokasi. Setidaknya saya bisa dapat sedikit liburan dalam pemenuhan salah satu kegiatan kampus yang harus saya ikuti selama empat puluh hari kedepannya ini, itu hal pertama yang saya pikirkan ketika benar-benar di lokasi. Hari itu semua dimulai, mulai berbagi, mengalah, melayani, dan tentunya jauh dari orang tua, keluarga, dan sahabat yang sebagian juga berkegiatan sama seperti yang saya lakukan hari itu meski berbeda lokasi.
Semua berjalan tentu tidak seindah apa yang bisa pikiran kita bayangkan karena penulis hidup yang sebenarnya telah menentukan segala sesuatunya dengan lebih rinci. Juga banyak permasalahan sekaligus pembelajaran yang datang dengan silih bergantinya waktu menuju empat puluh hari itu. Apalagi sebagian dari karakter saya yang lebih banyak memilih untuk cuek dan semaunya itu sedikit banyaknya cukup berandil besar dalam beberapa permasalahan yang datang. Saya juga mengerti semakin mendekat ke akhir, semuanya menjadi semakin berat karena seperti kata orang beras sekilo pun jika kita angkat dipundak bebannya akan bertambah berat setiap pertambahan bebannya, ditambah lagi situasi yang cukup menekan. Dan secuek-cuek saya, ketertekanan itu juga sangat kuat saya rasakan, meskipun tidak terlalu saya perlihatkan. Saya jauh lebih tertekan waktu itu.
Tetapi hujan kali ini bukan tekanan dan permasalahan itu yang mengantarkan saya lagi kesana, ke tempat itu, ke tempat kita. Kita, yaitu saya dan kalian, kenalan yang kemudian menjadi sahabat dan seharusnya menjadi keluarga meski untuk sebagian teman telah melupakan saat-saat dimana kita tak seharusnya seperti sekarang ini. Untuk saya sendiri, mungkin sekarang ada beberapa bagian yang tidak ingin saya ingat tentang 40 hari kita di bulan juni itu dan setelahnya. Tetapi semuanya tetap utuh di memori saya, sebagai bagian hidup yang sempat indah untuk dilewati. Meski ingin tapi tak ada yang terlupakan. Tentunya ketika ada kebahagiaan yang saya rasa tak semua orang kecuali kita merasakan yang seindah itu. Bagian yang seharusnya kita ciptakan lebih banyak lagi dan hingga sekarang. Diluar hubungan yang lebih spesial yang terjalin antara saya dan seseorang dari kita, tak ada yang berubah dari saya ke kalian, karena bagaimanapun kalian pernah jadi bagian berbagi tawa, kecemasan, ketakutan, dan berbagi rindu untuk orang-orang terdekat kita yang jauh dari tempat itu. Hingga sekarang, meski ada beberapa yang mungkin tak lagi saya hubungi, tapi saya kangen dengan kebersamaan kita setahun yang lalu, terlepas dari musibah yang meruncingkan permasalahan antara kita.
Saya tak ingin berbicara mengenai seharusnya lagi, setahun yang lalu yang telah terlewat tak mungkin lagi saya katakan dengan seharusnya. Karna cerita hidup akan tetap terus berjalan bersama atau tidaknya kita. Ada beberapa hal yang berubah setelah beberapa waktu itu, dan ada beberapa lagi yang kembali ke keadaan sebelum kita pernah bertemu. Dan untuk semua itu saya harap kita semua selalu diberikan kebaikan-kebaikan yang lebih oleh Tuhan, untuk setiap bagian dan pilihan yang telah kita ambil setelah empat puuh hari di bulan juni tahun lalu. Dan untuk tempat yang membersamakan kita, semoga keindahan alamnya selalu akan seperti pertama kali kita kesana. Terima kasih untuk bulan juni itu, di setahun yang lalu.
Hujan hari ini pun mereda, tetapi ada yang masih mengantar saya ke ratusan kilometer dari kamar ini. Ada keluarga kecil di sana yang saya rindukan, sebuah rumah disana dan keluarga kecil yang membahagiakan di dalamnya. Semoga Tuhan selalu mengingatkan kalian pada kami, meski tak ke sana lagi setelah setahun berlalu…
Solok Bio-Bio, Sumatera Barat
                                         
Advertisements