Tags

Hari ini adalah hari yang tak lagi mampu saya hitung jumlahnya setelah sore itu kamu melahirkan saya dari rahimmu di total dengan lamanya saya ada di perutmu. Hari ini adalah hari dimana saya juga tak bisa lagi mengukur seberapa banyak sayang kamu, lelaki yang kehilangan lelah ketika menggendong saya untuk pertama kalinya waktu itu.

Ya, ketika waktu itu, ketika saya menangis untuk pertama kalinya, ketika saya mendengar suara iqamah pertama kali, ketika saya ditakdirkan untuk seorang ayah dan ibu seperti kamu dan kamu. Kita memulai, memulai semuanya, memulai cerita saya sebagai seorang anak dan kamu juga kamu menjadi ibu dan ayah. Saat itu yang kamu hanya tau bahagia bersama saya. Dan saya pun begitu. Untuk waktu itu saya berterima kasih telah dilahirkan. Saya berterima kasih kepada Tuhan telah dikirim untuk kamu, ayah dan ibu.
 
Kemudian waktu berjalan terus. Saya bukan lagi bayi kecil. Raga dan otak saya mulai berkembang. Setelah melewati fase merangkak, berjalan, berbicara, dan mulai bisa menyebut nama mu, ayah dan ibu. Saya tau bertambahlah lagi bahagiamu untuk saya. Masa itu setelah saya menyusahkan kamu dan kamu untuk semua tangisan yang tidak melelapkan tidur mu, dan masih banyak lagi kekesalan dari kamu gara-gara saya, kamu masih tetap memelihara sayang itu untuk saya. Sama besar seperti berita awal keberadaan saya. Sejauh ini saya sangat bersyukur, untuk adanya kamu, dan kamu.
 
Saya mulai bisa membaca, mulai masuk ke sekolah. Kamu berdua bilang saya harus rajin belajar, biar pintar, biar jadi orang. Saya pun menurut, saya tiap malam belajar, tentunya dengan kamu dan kamu bersama saya, meskipun kita bertemu lebih intens di malam hari, setelah kamu berdua pulang kerja. Saya senang, meski kita Cuma bertemu lebih banyak pada hari libur dan malam hari, meskipun sehari-hari saya lebih banyak bersama nenek. Karna setiap malam saya selalu dipelukan kamu, dan setelah bersama kamu berdua sepertinya saya tak memikirkan apa-apa lagi, saya tak mau apa-apa lagi. Betapa sangat beruntungnya saya memiliki kamu berdua.
 
Waktu itu cukup cepat berlalu, saya mulai meremaja. Pertambahan usia, perubahan di hidup saya mungkin perlahan-lahan dimulai, begitu juga dengan pemikiran saya. Banyak hal yang sepertinya harus saya coba, harus saya mengerti. Pada masa ini kamu dan kamu mulai banyak melarang, mengingatkan, dan memberi petunjuk-petunjuk. Seringkali kita berselisih pendapat saat itu. Saya juga sering kesal ketika dilarang begini, begitu, padahal teman seumuran saya diperbolehkan melakukannya. Ya, disini saya mulai hidup dengan pemikiran saya, terlalu banyak coba-coba, dimana akibatnya nilai-nilai pelajaran saya juga mulai turun, kamu, ibu marah, hari itu. Cuma hari itu, karna besoknya kamu sudah tak ingat lagi mungkin. Tapi saya ingat, saya mengecewakanmu. Sementara kamu, ayah, sepertinya memahami dengan baik bagaimana saya, meski saya seringkali lebih berbagi dengan ibu, kamu mengetahui segalanya, dan sering tak mengacuhkanmu, saya lagi-lagi mengecewakanmu. Saya benar-benar sangat sering mengecewakan kamu berdua, waktu itu. Tetapi kamu tetap menyayangi saya, tetap mencintai saya, tetap sama seperti dulu, tak ada yang berubah. Saya tak tau bagaimana membalasnya selain doa pada Tuhan untuk menjaga dan selalu membahagiakan kamu dan kamu.
 
Semakin kesini semakin saya menyadari betapa besarnya cinta kamu dan kamu untuk saya. Tak pernah berhenti sekalipun. Meskipun kini kita lebih sering berjauhan. Semakin kesini saya sadar semakin jarang saya bisa membahagiakan kamu. Saya menyesal untuk waktu yang telah mengecilkan hati kamu dan kamu akibat ulah saya. Saya sebagai seorang anak biasa yang menjadi luar biasa dimata kamu dan kamu, Cuma ingin menyatakan kalaupun cinta saya belum sebesar kamu berdua pada saya, selamanya saya akan berusaha membuat kamu berdua bahagia.
 

Kamu dan kamu…Ibu dan ayah, begitu saya memanggil kamu berdua,Ketahuilah, bahwa saya sangat meyayangi kamu berdua…

                               

 

Advertisements