Tags

, ,

Hey, Kamu! Ingat tidak seindah apa view air terjun yang melatarbelakangi salah satu babak paling penting antara kita? Asal kamu tahu, itu tak sebanding dengan keindahan berkali-kali lipat yang siap meledak di hati saya. Tepat layaknya pecahan air terjun mengenai batu-batu besar yang menunggunya, mungkin akan terpental-pental jauh jika itu benar-benar meledak. Untung saja saya masih punya diam yang menyembunyikan segalanya. Tetapi, itu benar-benar momen tak terlupakan untuk saya, seperti menemukan oase di tengah kegersangan.

Kamu! iya, Kamu! Masih ingat bagaimana kamu mencoba menceritakan rahasia terbesar di hidupmu itu? Ketika saya menjadi pendengar dan pemberi komentar “hah?” “serius?” dan dibalik itu entah kenapa saya tak sedikitpun merubah penilaian saya pada kamu. Dimana saat itu saya belajar menerima kamu sebagai kamu porsi lengkap. Juga buat kamu ketahui saja, saya merasa ketika itu kita telah satu tingkat naik . Percaya, saya terus belajar menerapkan itu. Yang dari awal kita coba usahakan untuk sebuah hubungan yang dibangun oleh dua orang cuek dan jarang komunikasi seperti aku dan kamu ini.

Kamu! Coba sekarang tengok lagi ke belakang. Dari awal kita bertemu hingga sekarang, kamu terpikir tidak kita sudah sampai tingkat berapa? Hmmm…sudah..sudah..jangan dipikirkan sudah sampai tingkat berapanya kita. Toh, hubungan kamu dan saya bukan nominal yang bisa diperbandingkan melalui pembagian tingkat. Kamu dan saya tetaplah manusia, memiliki grafik naik turun sendiri yang terkadang membuat kita seimbang, namun sering juga bersimpang.

Nah, Kamu! Benar, apa yang pernah kamu bilang, sejauh apa kita telah lalui bersama, tak perlulah terlalu dipikirkan. Yang jelas selagi kita masih bersama, banyak hal yang lebih indah akan kita lalui. Juga perihal ke depan, Kamu dan Saya tak akan ada yang tahu, jadi juga jangan dipikirkan. Begitukan, kamu mengajari saya menikmati hidup yang sangat teramat jauh lebih indah ini.

Kamu!! I love U!

Advertisements