Tags

,

Pernah pada suatu musim, hujan merasa begitu jumawa mengusir matahari. Seharian penuh mendinginkan bumi pada satu kota berposisi di dekat pantai. Seakan membalaskan dendam pada panas matahari yang telah menguapkan air pantai dan menahannya berhari-hari di atas horizon, kemudian dimuntahkan lagi dalam bentuk titik-titik kecil dalam intensitas sangat banyak. Turun secara tak berkesudahan.

Ketika itu semua tersihir dingin dan tanpa aba-aba meredupkan lalu lalang hidup.  Bapak penyapu jalan itu misalnya, dari pagi telah berani meninggalkan rumah menuju jalanan yang jika biasanya telah penuh sesak asap mengepul dari knalpot-knalpot mesin yang jelas tak sehat, namun saat itu tertahan di bawah atap sebuah warung kecil. Menanti hujan yang belum pasti kapan berhenti. Mungkin tak berhenti sampai malam, dilihat dari warung yang masih tutup, seolah si punya warung tau bahwa hari itu hujan akan membiarkannya seharian di rumah kecil dengan keluarga kecilnya.

Beberapa jam kemudian, mendekati siang. Hujan masih seperti pagi, saat si bapak penyapu jalan memutuskan untuk menunggu hujan di sebuah warung yang masih tutup. Di hari biasa, jam segini dia sudah di rumah. Menikmati gorengan buatan istrinya di tambah segelas kopi dengan gula yang tidak begitu manis. Atau juga dia sekarang sedang di belakang rumah, mengurusi sebidang tanah tak luas yang ditanami tanaman cabe, tomat, dan beberapa jenis sayuran yang terlihat sangat terurus. Tapi Bapak itu terus menunggu di bawah warung, yang masih tutup dan sepertinya memang tak akan buka, menatap sela-sela hujan yang kosong.

Malam datang, hujan tak selebat sebelumnya. Mulai menjadi gerimis. Masih ada bapak penyapu jalan itu di warung yang masih tutup. Jalanan yang mengelabut oleh hujan mulai terang oleh lampu-lampu kendaraan. Menjelaskan rintik-rintik hujan yang mulai turun lebih lambat dan lebih tipis. Bapak itu tiba-tiba beranjak, mungkin menuju rumah. Namun, di bawah benderang lampu jalan, Bapak penyapu jalan tampak menangis. Mungkin hujan seharian membuatnya keluar air mata. Mungkin juga, ada kesedihan yang di sembunyikannya pada hujan saat itu. Entahlah..

Advertisements