Tags

, ,

Beberapa tahun yang lalu, Saat masih kuliah tahun ke dua, di masa lagi sibuk-sibuknya waktu kuliah, praktikum, dan jadi panitia acara di kampus, Saya selalu berusaha buat adain waktu untuk pulang ke rumah minimal seminggu sekali. Malah ketika gak ada waktu buat pulang pun, Saya akan mepet-mepetin waktu untuk kegiatan lain, biar waktu untuk pulang ke rumah jadi ada, maksain diri buat pulang lebih tepatnya. Jarak kampus ke rumah itu sekitar dua jam dengan dua kali naik angkot dan sekali naik bus, lumayan ngerepotin kalo bolak-balik ngampus tiap hari dari rumah, belum lagi kalo pulangnya malam, apalagi waktu masih MaBa, emang pulang malam terus kalau dari kampus, makanya buat sehari-hari Saya milih ngekos di dekat kampus dan (maksain)pulang ke rumah sekali seminggu.

Tapi kali ini Saya nggak mau cerita tentang masa-masa kuliah yang bikin mau mati ajah lumayan berat, Saya cuma mau cerita tentang seorang Bapak tua berbadan gemuk yang Saya temui di bus menuju rumah. Sebenarnya Saya bukan orang yang mudah ngobrol sama orang yang duduk di sebelah saya saat di bus, paling banter cuma jawab ‘iya’, ‘ooh’, ‘hmm’, kalo orang di sebelah Saya termasuk ke dalam tipe orang yang mudah curhat sama orang yang duduk di sebelahnya. Malah kalo di bus, Saya lebih milih tidur karena waktu buat tidur di waktu-waktu itu sudah layaknya nemuin air di tengah gurun pasir tandus nan kering. Atau Otak Saya yang keseringan kurang tidur saat itu, lebih memilih menikmati kehidupan nyata di luar jendela bus yang nggak pernah ada dalam lembar-lembar tugas kuliah yang Saya nikmati setiap harinya.

Pertemuan Saya dengan si Bapak sudah sangat lama, tapi cukup membekas di pikiran Saya. Dilihat dari penampilannya si Bapak, adalah tipikal Pensiunan yang sangat menikmati masa tuanya. Ini saya tangkap dari bagaimana sesekali beliau bercerita tentang perjalanannya dari rumah anaknya yang satu ke rumah anaknya yang satunya lagi. Bukan tentang bagaimana Beliau menikmati masa tuanya, tapi bagaimana Beliau menikmati hidup. Sebuah Kalimat singkat bermakna sangat indah Beliau pesankan pada Saya untuk tak pernah lupa. Sebenarnya juga tak mungkin lupa, karena sehari-hari sebagai muslim, Saya akan secara kontinu menyebutkannya ketika beribadah.

Kalimat itu adalah: ALHAMDULILLAH…

Yang dipesankan Si Bapak Tua itu bukan sekedar membacanya saja, namun juga mengikutinya dengan keyakinan dari hati. Kenapa, karena kalimat itu adalah kalimat syukur yang akan selalu mendekatkan kita pada Allah. Beliau menjelaskan betapa syukur akan memperbesar terbukanya pintu-pintu rezeki dan memudahkan langkah kita di hidup. Beliau berbagi penggalan kisah hidupnya yang tak pernah kekurangan karna kalimat itu. Beliau juga menjelaskan bahwa dengan bersyukur dan mengucap alhamdulillah setiap waktu, hidup akan lebih tenang dan damai, karena tak perlu merisaukan apapun lagi tentang hidup. Bonus dari ketenangan itu, kata si Bapak adalah kesehatan di usia Beliau yang sudah mulai senja.

Petuah Bapak tua itu diakhiri dengan sebuah kalimat penutup;

Baca Alhamdulillah-nya jangan hanya ketika mendapat rezeki saja ya, Nak, karena apapun yang Kita miliki hingga sekarang adalah pemberian yang di atas…’

Cesss….seperti bunyi besi panas yang dimasukan ke dalam air. Kalimat terakhir ini adalah besi panas yang menusuk sangat dalam di cairan otak dan aliran darah menuju jantung. Saya langsung menghujani diri dengan pertanyaan-pertanyaan; kapan terakhir kali Saya bersyukur dan bilang alhamdulillah? Seberapa sering Saya lupa untuk bersyukur? Seberapa sering saya telah mengucap syukur?

Hingga sekarang, Saya tak pernah lagi bertemu dengan si Bapak itu. Bahkan  pesan sekaligus pelajaran berharga dari beliau, beberapa saat yang lalu mulai Saya Lupa. Saya menyadari sudah terlalu banyak mengeluh beberapa waktu belakang, hingga Saya menemukan lagi catatan Saya sesaat setelah bertemu Bapak Tua itu.

Lagi-lagi Saya di buat menanyai diri Saya sendiri: Kapan terakhir Saya mengucap alhamdulillah untuk yang Saya punyai hingga saat ini?

Ps: Sekali lagi Saya harus berterima kasih pada Bapak Tua itu setelah beberapa tahun kembali diingatkan lewat cara yang lain juga Alhamdulillah untuk pertemuan yang sarat makna itu. Semoga Bapak Tua yang tak pernah lagi Saya temui itu selalu dalam keadaan terbaiknya dan semoga beliau selalu dilimpahkan pahala oleh Allah. Aamiin..

Advertisements