Melihat dunia sekarang, Aku sesekali juga ingin memasukkan kakiku masuk ke arusnya, ingin merasakan dingin menyelinap pada pori-pori kulitku, merangsang saraf perasa dan mengirimkan sinyal ke otakku untuk memutuskan; mengeluarkan kaki segera atau membiarkannya agar terbiasa dengan arus itu.

Aku ingin mencari tau seberapa kekuatan arus itu  menghantam kakiku, dan bertanya-tanya apakah mungkin Aku akan terbawa? Atau, mungkinkah itu cuma arus tak bertenaga, tapi seolah-olah berdaya super karena cerita. Cerita ciptaan Pembual yang ingin merayu keingintahuan dan menggugah perasaan ingin coba-coba manusia sekarang. Bisa saja, kan?

Ngomong-ngomong soal pembual, Aku selalu menaruh ketertarikan tinggi pada orang-orang sejenis itu. Pembual yang Ku maksud di sini bukan pembuat cerita palsu yang sengaja ditujukan untuk menipu orang-orang demi keuntungan pribadi. Buatku pribadi, Pembual adalah orang yang mampu mem-fakta-kan sebuah imajinasi. Sebentuk manusia yang diberikan kelebihan untuk menyusun kata per kata menjadi kalimat, lalu paragraf, bab, buku, dwilogi, trilogi dan seterus-seterusnya. Manusia dengan sebutan pembual itu adalah mereka yang membuatku tetap ingin mengetahui lebih lanjut ceritanya di luar apakah cerita itu benar-benar sesuai logika atau tidak.

Hal yang paling membuatku tertarik adalah otaknya. Aku menerka apakah Mereka bekerja dominan dengan otak kanan atau otak kiri atau keduanya seimbang? Apakah tali-tali penyambung di otaknya terjalin begitu sempurna? Dimana Dia menyimpan imajinasi-imajinasinya dan bagaimana kerja otaknya mengubah imajinasi itu menjadi cerita yang mengagumkan ketika dibaca? Atau mungkin otaknya malah lebih sederhana dari otak manusia biasanya? Sehingga gampang saja buat Mereka mereka-reka dan membolak-balikan alur karena di otak sederhananya itu memang di fasihkan khusus hanya untuk pekerjaan sejenis itu.

Tapi, Aku juga digelitik dengan pemikiran bahwa kemungkinan kemampuan itu bukan datang dari otak mereka, tapi perasaan. Apakah itu buah dari kelebihan sensitivitas perasaan Mereka dari perasaanku? Apakah karena sensitivitas itu Mereka mampu merasakan orang lain lebih detail, mencari tahu keinginan orang lain, dan memenuhi kebutuhan orang lain itu lewat ceritanya. Mungkin juga perasaan itu yang membantu Mereka menyentuh perasaan tertarik orang lain. Apa jenis perasaan Mereka? Berbedakah dari manusia biasa seperti Aku?

Berikutnya Aku dijebak oleh kemungkinan-kemungkinan lain yang ada. Terlalu banyak hipotesis yang muncul selanjutnya. Terlalu lama kalau Aku harus bereksperimen untuk menemukan hasilnya. Buang-buang waktu atau malah Aku yang terjerat untuk menjadi pembual juga nantinya. Aku kan hanya tertarik dengan mereka bukan tertarik menjadi mereka. Jadi, sepertinya kuputuskan saja untuk tetap menaruh ketertarikan tinggi pada si pembual, dengan meluruhkan kemungkinan itu. Aku padamu, Tuan dan Puan Pembual. Salam hormat.

Ps: Aku harap arus dunia sekarang bukan belaka buatan si Pembual. Tapi, sebaiknya Aku menunda dulu keinginanku memasukkan kaki ke arus dunia sekarang yang belum jelas itu. Biarlah Ku nikmati saja arus yang dikarang si Pembual dalam cerita-ceritanya.

Advertisements