Tags

, , , , ,

Beberapa bulan yang lalu, Saya mencoba menampakkan diri lagi di kampus setelah cukup lama memilih untuk meluluskan diri dari sana. Saya diketemukan dalam kecanggungan luar biasa menghadapi Kampus yang telah berbenah diri menuju wajah yang lebih baik. Yang paling bikin canggung sekaligus takut adalah jalan-jalan yang diperbanyak, sehingga angkot yang Saya naiki harus mutar kemana-mana dulu sebelum sampai di Jurusan Saya yang notabenenya berada di lokasi paling atas, takut abang supir angkotnya lelah dan tega menurunkan Saya di tengah jalan. *halah*

Ternyata setelah sampai di jurusan, Saya disajikan pemandangan yang sama, tonggak-tonggak tak bernyawa hasil pekerja konstruksi tertata siap menjadi tambahan bangunan lagi untuk gedung jurusan. Jurusan yang dulu jadi menakutkan karena kegersangan dan semak belukarnya sudah merubah diri jadi lapangan lengkap dengan parkiran dan kolam, walaupun saat Saya masih di sana kolam dan parkiran sudah berbentuk, tapi sekarang sudah lebih cantik dan benar-benar seperti parkiran dan kolam berair mancur. Saya jadi canggung, merasa bahwa tempat ini bukan tempat Saya menghabiskan waktu dengan ber-sks-sks mata kuliah, bukan tempat Saya ditempa dengan aksi-aksi debus para pendahulu di jurusan, bukan pula tempat Saya menemukan orang-orang ganjil yang menemani Saya memperjuangkan sebuah gelar kesarjanaan.

Saya juga teringat dengan sesuatu yang kini Saya alami. Mengenai Saya dan sahabat-sahabat lama ketika kuliah. Selang beberapa waktu setelah Saya lulus, sangat banyak diantara Mereka yang dulunya bertemu secara intens, perlahan menuju sekarang mulai mengabur kehadirannya. Setiap Mereka telah punya kesibukan masing-masing, dengan ruang yang jauh di antara kami. Komunikasi paling dekat mungkin cuma lewat grup di salah satu aplikasi chatting. Hingga kini sampailah pada satu titik dimana ditemukan ketidaksamaan-ketidaksamaan yang dulu tak ada. Entah itu bagaimana pola pikir Mereka, atau cara Mereka melakukan sesuatu. Yang ditimbulkannya, sama seperti kecanggungan yang timbul ketika Saya menemukan kampus dan jurusan dalam bentuk dan suasana berbeda. Saya diliputi perasaan bahwa Mereka bukan lagi Mereka yang dulu pernah menjadi tempat Saya melewati hal bersama.

Saya meyadari tiga kata yang saling berkaitan, yaitu; waktu, jarak, dan perubahan.

Yang menciptakan kecanggungan Saya dengan kampus adalah waktu dengan rentang cukup lama dimana Saya tak pernah lagi ke kampus. Adalah waktu yang juga dalam hitungan cukup lama tak Saya gunakan untuk berkomunikasi dengan sahabat-sahabat lama Saya. tak pernah lagi ke kampus dan tak digunakan lagi untuk berkomunikasi adalah nama lain dari jarak, selain jarak adalah label untuk keterpisahan ruang. Waktu adalah bagian dari perubahan, adanya jarak membuat Kita tak sadar dengan perubahan yang telah terjadi. Hingga pada satu ketika, waktu seolah menyadarkan Saya, ketidak-adaan Saya sebagai jarak yang Saya buat sendiri telah menciptakan kecanggungan terhadap hal-hal yang telah berubah.

Tidak mengecilkan kemungkinan jika kampus yang telah lama tak Saya datangi ataupun sahabat lama yang telah lama tidak berkomunikasi merasakan kecanggungan yang sama dengan Saya. Karena yang berubah bukan hanya lingkungan dan orang-orang di sekeliling saya, tetapi juga perubahan pada diri Saya. Intinya perubahan itulah yang membuat Saya bertumbuh dan berkembang sebagai pertanda bahwa Saya memiliki kehidupan. Perubahan di dalam dan di luar Saya.

Tapi, saya tau kecanggungan tidak datang pada setiap perubahan. Perubahan yang berproses tanpa jarak adalah sesuatu yang menjadikan Kita berpikir bahwa Kita selalu ada di tempat yang Sama. Saya sebut sebagai kebersamaan, meski cuma kebersamaan lewat komunikasi intens sekalipun. Menjadi saling ada, menjadikan perubahan terasa tanpa makna hingga seperti semuanya tidak ada yang berubah. Entah ini disebabkan oleh sama-sama saling berubah atau karena membersamai dalam perubahan masing-masing.

Dan, bersyukurlah untuk setiap yang telah berubah atau yang terasa masih seperti dulu. Entah itu perubahan dalam bentuk kecanggungan, atau perubahan dalam bentuk waktu dengan segala bagian yang masih sama. Jangan lupa membersamai sesuatu berharga yang Kita miliki sekarang dan nikmati berubah bersama sebagai bagian dari bersyukur untuk apa yang telah di berikan Tuhan hingga saat ini.

🙂

Ps:

Tujuh Tahun yang Lalu

Ada rindu yang terselip di antara perubahan demi perubahan itu. Rindu pada masa membersamai satu sama lain. Dan percaya lah, meski perubahan itu juga menciptakan kenangan, dalam kenangan “Kita” tak pernah mengalami perubahan.

Advertisements