Tags

, , ,

10891928_10203498757575843_8712987726126411677_n

Awal muawal Saya memulai blog ini adalah dengan niat akan menge-post minimal sekali seminggu. Tapi, niat tinggal niat, yang ‘katanya’ mau mengepost sekali seminggu ini, malah mengepost sekali satu semester saja sudah luar biasa. Bisa diliat, dari sekitar empat tahun ngeblog, Saya Cuma bisa bikin postingan gak lebih dari sepuluh per tahunnya. Malahan hitungan itu akan kalah banyak dengan hitungan Saya ganti password akun blog ini. Karena Saya punya daya yang cukup lemah dalam hal ingat mengingat, password yang sesimpel apapun akan hanya tertinggal sementara di otak saya, dan enyah tanpa bekas beberapa waktu setelahnya. Alasan Saya ngeblog ini pun juga didasari oleh kesadaran diri akan kemampuan mengingat yang payah, jadi Saya akan menjadikan blog ini sebagai penyimpanan memori-memori Saya. Sayangnya, Saya tak hanya lupa password, tapi juga lupa untuk sering-sering mengisi blog ini. *huft*

Saking lupanya, Saya telah melewatkan hal-hal penting. Terlalu banyak sih, mulai dari hal kecil seperti kesedihan karena harus meninggalkan beberapa ekor kucing di rumah karena harus berbulan-bulan berjuang di Kota lain, atau momen-momen di mana kucing di rumah tak ingat Saya lagi saat balik akhir tahun kemarin  (ini kok kucing semua ya?) hingga hal-hal besar menyangkut kontroversi bumi itu datar dan  yang sekarang lagi heboh mengenai pilkada di Indonesia. Engg… Berhubung Saya gak ahli-ahli banget soal hal-hal besar yang Saya sebut sebelumnya, juga gak mau dibilang sok tahu masalah perkucingan (?), jadilah Saya nggak berniat menuliskan hal-hal penting yang terlewatkan itu di blog ini. Lalu, Saya hanya akan menulis satu hal yang sangaaaaaaaaaaat penting. Liat ya, kalo huruf  ‘a’ di kata ‘sangat’nya banyak? Tapi makna di balik kata ‘sangat’ itu jauh melebihi jumlah huruf ‘a’ yang ada, hingga melebihi tak hingga.

Saya ingin menulis tentang satu buah Nama yang tercipta dari perembukan alot bertahun-tahun yang lalu. Biarpun Shakespeare (please, jangan tanya orang ini siapa!) pernah bilang apalah arti sebuah nama, tapi buat orang-orang berusia belasan dan berseragam kemeja motif tartan (re– kotak-kotak), nama adalah sesuatu yang penting, lain daripada yang lain, dan yang paling utama dari semua itu, namanya HARUS KEREN. Saya lupa-lupa ingat proses penemuan nama itu dikomandoi oleh siapa, karena pernah ada dua orang komando sepanjang terjadinya penyerangan terhadap negara api yang merupakan korban dari panasnya pergolakan di tahun tersebut. Yang Saya ingat cuma tempat bersejarah tempat nama itu di temukan. Di sebuah ruangan yang tak hanya menjadi saksi tak bersuara atas penemuan nama bersejarah itu, tapi juga untuk berbagai peristiwa-peristiwa bersejarah lainnya yang membekas hingga ke sumsum tulang belakang lalu termuseumkan di otak (istilah khas salah seorang yang terwakili oleh satu nama ini). Yang paling Saya ingat, adalah nama itu, terdiri dari tiga suku kata yang melingkupi 47 tubuh lengkap dengan pola pikir masing-masing di awalnya, kemudian menjadi 40, dan berakhir dengan hitungan 38. Nama itu. RELEFAN.

Relefan itu gak ada di kbbi, yang ada Cuma kata relevan. Relevan kalo mengacu ke KBBI adalah kait-mengait, atau sangkut bersangkut. Nyambung sih, kalo disambung-sambungin ke nama Relefan yang kalo ditelaah tujuan tersembunyinya, memang untuk mengaitkan atau menyangkutkan satu sama lain bagiannya. Tapi percayalah, referensi nama Relefan bukanlah karena makna kata ‘relevan’, tapi lebih ke satu kalimat panjang yang kalo di singkat terdengar seperti kata ‘relevan’. Ia lah, RELEFAN, akronim dari “Relationship of Environmental Engineering’s Family O’ Nine”. Satu nama kepunyaan anak-anak satu angkatan di teknik lingkungan yang sama-sama mencari ilmu di salah satu Universitas yang berlokasi di salah satu bukit kepemilikan tanah andalas. Dan Saya adalah bagian dari anak-anak itu.

Saya dan tiga puluh tujuh orang lainnya sekarang adalah bagian yang dilahirkan oleh Relefan yang kami lahirkan. Seperti ayam yang mengeluarkan telur dan telur yang menetaskan ayam yang baru. Ketika kami adalah ayam dan relefan adalah telur, relefan menetaskan masing-masing kami yang lebih baru daripada kami yang memulai perembukan penciptaan sebuah relefan. Menciptakan relefan, Saya ibaratkan sebagai pengeluaran sebuah telur dengan cangkang kuat yang melingkupi kami. Menempatkan Saya dan mereka dalam satu ruang yang sama untuk bertumbuh. Melewati susahnya mengendalikan diri saat cangkang itu diberi tekanan kuat oleh dunia luar juga oleh tekanan yang seringkali datang dari dalam. Kami sering menemukan momen dimana  yang bisa kami lakukan hanya menertawakan beban yang tak kunjung kelar. Hingga saling berpegangan adalah hal yang terus ingin kita lakukan saat satu-persatu menetas dari cangkang itu setelah tahunan waktu bersama. Ya, di saat yang tepat cangkang itu pecah dan menetaskan semua manusia-manusia yang dulu dilindunginya, dibarengi dengan kenangan cerita dan satu titel.

Kini, pada bagian waktu yang memang tak pernah berhenti, cangkang itu telah menetaskan Saya dan  Kalian tanpa sisa. Membiarkan Kita berbaur dalam cangkang yang lebih besar, bukan lagi cangkang Relefan yang pernah melingkupi dengan cerita di satu Kota yang sama. Tempat sudah membedakan, pun dengan jalan yang tak lagi selaras. Kita disibukkan oleh pencarian sekaligus perjalanan untuk sebuah pencapaian terbaik di usia yang menuntut pembuktian diri dalam artian yang beragam. Tetapi, Saya percaya, tetap ada Relefan dalam Kita, juga tetap ada Kita dalam Relefan. Bersyukur pernah sama-sama dinaungi nama yang sama, pernah menikmati replikasi dunia versie mini dalam keberadaan di dalam Relefan. Bersyukur dipertemukan dengan penghuni relefan yang tak satu pun normal. Bersyukur untuk punya kenangan dan menciptakan kenangan di masa lalu.

Sekarang, mari melanjutkan hidup dalam dunia yang tak lagi semudah dulu, Relefan-family! Saat dunia terasa sangat berat, ingat saja kita pernah melewati yang seperti itu dan kita pernah bisa menghadapinya. Juga saat sepi tak menyenangkan, masih ada Kita yang akan selalu membersamai, karena jarak tak merubah apapun, sebagaimana seharusnya. Because, we’re still in relefantionship. :*

Advertisements