Tulisan ini hanya bagian tidak jelas yang tidak mendeskripsikan perihal rindu.

Jangan di baca!

Semakin jarak jauh, maka semakin besar pula rindu yang harus direngkuh. Inilah teori abal-abal, tanpa referensi yang bisa dipertanggungjawabkan, yang Ku temukan selama observasi dalam selang waktu Kita yang dipenuhi jarak.

Pada malam kelam, seringkali rindu itu menyelinap dalam senyap. Menyisipkan kecurigaan, dicampuri kekhawatiran. Terkungkung dalam krisis kepercayaan, lalu terbelit gengsi sendiri ketika keinginan terbesit untuk mengonfirmasi kalau rindu itu hanya mengkamuflasekan dirinya dalam bentuk-bentuk gangguan ketidaknyamanan terhadap perasaan.

Apa aku terlalu menyudutkan rindu? Membuatnya terlihat tak menyenangkan?

Sebentar! Aku belum selesai dengan rindu.

Aku tak pernah benar-benar bisa tak menyukai rindu. Bagaimana mungkin rindu seenaknya Ku salahkan saat dia tau diri membiarkan Aku dan Kamu berbagi cerita, meski hanya lewat komunikasi tanpa pertemuan langsung, dalam tema yang melebar entah kemana, dan tak mengikuti kaedah alur penceritaan yang baik. Bagaimana mungkin Aku bisa bilang rindu itu mengganggu kenyamanan perasaan ketika Ia telah berubah wujud menjadi perasaan bahagia yang mempertahankan senyum Ku dalam rentang cukup lama setelah pembicaraan Kita berakhir.

Semakin jarak jauh, semakin besar pula rindu yang harus direngkuh, semakin pula bahagia menjadi utuh.

Dalam hidup semua berproses, termasuk perihal rindu.

Menurutku rindu berproses seperti hujan. Dipicu oleh jarak, rindu ditumpuk dalam titik-titik uap ketidaknyamanan yang dibentuk oleh panasnya lautan perasaan Kita. Titik-titik uap itu akan terus naik ke atas di dorong oleh waktu, hingga berkumpul menjadi awan yang pada satu waktu akan mencapai titik jenuhnya. Titik jenuh itu semacam titik dimana Aku dan Kamu akan meluruhkan gengsi  satu sama lain untuk memulai satu pembicaraan. Pada titik itu, hujan turun, membawa bahagia, menempatkan Kita ada di satu ruang yang sama, perasaan nyaman yang sama, dan  tanpa jarak sementara.

Lalu dalam rentang tertentu, rindu kembali lagi ke proses awal. Kita dijebak rindu dalam proses yang sama berulang kali. Tapi tak usah peduli, toh Kita di sediakan bahagia dalam hitungan berkali-kali.

Semakin jarak jauh, semakin besar pula rindu yang harus direngkuh, semakin pula bahagia menjadi utuh, maka dari rindu tak usah berteduh.

 

 

 

 

Advertisements