Si Bapak Tua

Tags

, ,

Beberapa tahun yang lalu, Saat masih kuliah tahun ke dua, di masa lagi sibuk-sibuknya waktu kuliah, praktikum, dan jadi panitia acara di kampus, Saya selalu berusaha buat adain waktu untuk pulang ke rumah minimal seminggu sekali. Malah ketika gak ada waktu buat pulang pun, Saya akan mepet-mepetin waktu untuk kegiatan lain, biar waktu untuk pulang ke rumah jadi ada, maksain diri buat pulang lebih tepatnya. Jarak kampus ke rumah itu sekitar dua jam dengan dua kali naik angkot dan sekali naik bus, lumayan ngerepotin kalo bolak-balik ngampus tiap hari dari rumah, belum lagi kalo pulangnya malam, apalagi waktu masih MaBa, emang pulang malam terus kalau dari kampus, makanya buat sehari-hari Saya milih ngekos di dekat kampus dan (maksain)pulang ke rumah sekali seminggu.

Continue reading

Hujan dan Bapak Penyapu Jalan

Tags

,

Pernah pada suatu musim, hujan merasa begitu jumawa mengusir matahari. Seharian penuh mendinginkan bumi pada satu kota berposisi di dekat pantai. Seakan membalaskan dendam pada panas matahari yang telah menguapkan air pantai dan menahannya berhari-hari di atas horizon, kemudian dimuntahkan lagi dalam bentuk titik-titik kecil dalam intensitas sangat banyak. Turun secara tak berkesudahan.

Continue reading

Hujan Sehari

Tags

Dulu ketika masih anak-anak, Saya senang sekali kalau sudah berada di bulan berakhiran ‘ber’. Karena di bulan-bulan itu, Hujan akan turun hampir setiap hari dengan intensitas yang cukup lama. Hal yang lebih membahagiakan, kalau hujan nya turun ketika Saya akan berangkat sekolah. Alasan terbaik tanpa kebohongan untuk tidak sekolah. Hehe…

Bukan itu saja, Hujan yang turun ketika jam istirahat di sekolah akan jauh lebih membahagiakan ketika itu. Lari-larian di bawah hujan, tertawa di sela-sela hujan dengan bibir yang mulai memucat, dan suara riuh teriakan saya serta anak-anak seumuran yang mencoba menghindari lemparan tanah basah tercampur air hujan oleh salah satu anak yang juga seumuran kami jadi penanda bahwa pelajaran berikutnya adalah terus bermain hujan. Sederhana memang, tapi semakin ke sini Saya merasa, tak ada yang bisa mengalahkan rasa-rasa bahagia se-sempurna itu.

Meski sekarang, Saya tak mengurangi sedikitpun rasa bahagia ketika hujan turun, tapi ketika masih anak-anak dulu, Saya hanya perlu memikirkan menikmati bermain hujan sepuasnya tanpa campur tangan pemikiran-pemikiran lain.

Hari ini pun, di akhir-akhir bulan november, hujan lagi-lagi turun tanpa jeda dari pagi tadi. Saya bahagia. Tapi… banyak ketakutan dan keraguan yang merasuki pemikiran hari ini.

Tiba-tiba Saya ingin kembali, kembali menikmati bermain hujan saja. Cukup memikirkan hujan Saja.

Maunya

Tags

Maunya sih, saya dan kamu akan bercengkerama terus hingga lupa waktu,

Maunya lagi, setiap peraduan mendekat dimalam hari, kita akan dipertemukan lewat ucapan selamat tidur,

Maunya saya terus-terusan tahu segala hal tentang kamu, kemudian menyimpan kamu dalam-dalam di hati saya,

Maunya saya, kamu ada meski cuma dalam diam,

Maunya saya, saya ingin menyampaikan semua mau-mau saya yang lebih banyak lagi,

Namun,

Maunya saya yang sebenar-benarnya,

adalah:

Kamu!